Powered by Cycoblast.Artwork

http://mahaksara.blogspot.com

Powered by Cycoblast.Artwork

http://mahaksara.blogspot.com/

Powered by Cycoblast.Artwork

http://mahaksara.blogspot.com

Powered by Cycoblast.Artwork

http://mahaksara.blogspot.com/

Powered by Cycoblast.Artwork

http://mahaksara.blogspot.com/

Kamis, 29 November 2012

PosiMis

Yakin akan penyesalan kegagalan
Tendensi tinggi upaya memutar balik
Coba menangkan mutlaknya kekalahan
Tapi yang anti selalu terancam dicekik!

Pola pikir positif selamanya ditutupi kabut pesimis
Keras usaha semesta kecil tak akan coba di gubris
Maaf saja, tapi memang hakikat manusia sinis
Garang, sadis, miris, kadang darah bersimbah tragis!

Peduli setan sunggingan senyum hiperbola mereka
Kenapa tidak? Memang sudah lupa neraka..
Dimana substansi seru nya jika tidak saling cela?
Di sini, di sana, sama saja, kemunafikan merajalela..

Positif selalu dijadikan alternatif..
Tapi pesimis selalu mencolok bahkan lebih terang
Kondisi empiris jadi pelatuk salah persepsi argumentatif
Dialektika, pura-pura sepakat, kalah, paksakan menang..

Rabu, 28 November 2012

Iblis Menggugat Tuhan


"Iblis Menggugat Tuhan"
Oleh Al-Shawni


ALKISAH, seorang pendeta bernama Buhairah menarik diri dari gereja dan memutuskan hidup menyepi. Dalam kesendiriannya, dia menenggelamkan diri ke dalam kajian tehadap buku-buku Kristen. Namun upaya itu tak berhasil menghilangkan “kegelisahan” teologisnya.

Suatu saat, di dalam satu buku, Buhairah menemukan sebuah ramalan. Tentang tanda kenabian yang akan dilihatnya pada punggung seorang bocah kecil. Sebagaimana tercatat dalam sejarah Islam klasik, pada akhirnya Buhairah menemukan tanda kenabian itu di punggung muhamad SAW, yang kelak diangkat menjadi Rasul Allah.

Berangkat dari momentum pertemuan antara Buhairah dan Muhammad, Al Shawni memulai kisahnya. Tokoh Buhairah yang digambarkan sedang mengalami skeptisisme personal terhadap keesaan Tuhan diajak Rasulullah. Dia dibawa ke sebuah tempat yang jauh dari hiruk-pikuk keramaian, yang hanya diterangi kerlip dan redupnya bintang.

Di kesunyian itu, Buhairah mengalami komunikasi trsnsendental dengan sosok makhluk gaib yang tak lain adalah iblis. Mulai dari titik ini, pengarang menunjukkan “keliaran” imajinasi untuk meruncingkan konflik di dalam “tubuh” novelnya. Dengan teknik dan langgam penggisahan yang unik, Al-Shawni mendeskripsikan egosentrisme iblis.

Ketika pendeta Buhairah mempertanyakan latar belakang kesombongan iblis yang menolak sujud pada Adam, pengarang memanfaatkan moen itu untuk merumukan dalil-dalil filosofis dalam rangka menarasikan penggugatan iblis. Jelas sekali, Al-Shawni hendak menggelindingkan diskursus baru tentang riwayat pembangkangan iblis yang menolak sujud pada Adam.

Menurut Al-Shawni, penolakan iblis, yang kelak menjadi sebab keterkutukannya, bukan karena latar belakang ontologism. Bahwa iblis diciptakan dari api, sementara Adam hanya diciptakan dari tanah, sebagaimana penafsiran konvensional. Namun justru karena eksistensi Adam adalah pencerminan dosa-dosa iblis. Jadi, mana mungkin iblis mau bersujud pada cermin yang memantulkan buruk rupa wajahnya sendiri?

Bagi khalayak pembaca umum, membaca karya sastra adalah “menikmatinya”, bukannya menggali aspek-aspek kebenaran epistemologisnya. Jika pada paragraf-paragraf awal sebuah novel pembaca tak berhasil “meraih” kenikmatan dengan gambang mereka akan menutupnya.

Tetapi, sebagaimana diusung oleh Al-Shawni di dalam buku ini, barangkali membaca sastra tak cukup kalau sekedar menikmati. Pembaca perlu pemahaman yang intens, penafsiran kritis, dan yang lebih penting adalah penyingkapan misteri kebenaran epistemologis karya sastra sampai ceruk paling dalam.

Dalam buku ini, Al- Shawni seperti sedang mendadani karakter bejat iblis dengan jubah kebesaran filsuf yang penuh aura kearifan dan kejeniusan. Ia berhasil menggunakan metode adab al-jadl. Metode ini semacam kode etik berpolemik di kalangan pemikir muslim Abad Pertengahan, seperti muncul pada debat Buhairah dengan iblis.
DOWNLOAD DISINI

Ringkasan Logika Muslim

"Ringkasan Logika Muslim"
Oleh Hasan Abu Ammar



Senin, 19 November 2012

Habitat

Habitat

Kemarin, aku berdialog bersama teman-teman
seperti biasa, dialog tentang preman..
dan lagi, di tempat yang penuh preman
ya.. Di warkop biasa, depan lesehan..

aku mendengar dialog meja sebelah
dialog saling menjatuhkan yang kedengaran bising
dan satu dari mereka bertugas jadi pembela
seperti serigala dan singa yang saling unjuk taring..

seorang kawan menyambut sarkas
"we tawwa nia' mi asua !! hahaha"*
tapi tenang, di tempat ini tidak ada nilai..
anjing-anjingan sudah menjadi tradisi disini

bukankah hebat bisa saling men-judge sesuka hati ?
dan lebih hebat lagi, aku bebas menganjingkan asasi
diatasku, dibawahku maupun sebayaku tanpa mosi..
bagaimana jika ini merupakan gambaran kecil negara ini?

akankah kita masih akan berdialog di tempat ini?



*"hey, si anjing sudah datang"