Powered by Cycoblast.Artwork

http://mahaksara.blogspot.com

Powered by Cycoblast.Artwork

http://mahaksara.blogspot.com/

Powered by Cycoblast.Artwork

http://mahaksara.blogspot.com

Powered by Cycoblast.Artwork

http://mahaksara.blogspot.com/

Powered by Cycoblast.Artwork

http://mahaksara.blogspot.com/

Rabu, 11 September 2013

Emboss



Sepatu merah,
Tinggi,menyala menebarkan pukau menyulut birahi,membakar amarah
Lipstik merah,
Berani,menantang mengukir sejarah


MANIAK!

 Aku mempunyai seorang kekasih yang teramat sangat aku cintai. Tubuhnya tambun,perutnya buncit,hidungnya besar dan sangat menggemaskan.Setiap hari aku menggodanya sembari mencubit perut, hidung bahkan payudaranya yang besar layaknya wanita. Kenyal! rasanya ingin kugigiti hingga terputus dari tubuhnya.


Selasa, 27 Agustus 2013

Hacken Von Possessivum

Jika kecurigaanku mulai pudar dalam biru
jangan salahjalankan kebebasanmu
tetap bersamaku
sejajari aku, bakar kembali cemasku!

jika mataku lelah dalam tiap lirikanmu
lelapkan mereka, berempat dengan matamu
lupakan mata-mata lain yang tak penting
seperti fokus para pecandu kala melinting

jika tanganku mulai lembab berkeringat
seingatku, kau tak pernah jijik menggenggam erat
bahkan aku masih ingat rasa saat ketiakku kau jilat
geli, mesra, namun atas itu semua, kita belum "bejat"

jika janji bukan lagi kau dan aku dalam aku
coba kembarsiamkan jasadku dalam dekapmu
putar kembali simfoni janji tentang rindu
dan lalu, kekallah seperti itu.. kekasih.

Jumat, 02 Agustus 2013

Kepala-kepala beda

Hari ke-enam belas di bulan keenam di tahun ke tiga ribu enambelas dikurang tiga tahun!

                Entah ini sebuah paradox atau ironi, aku tak pernah mengerti akan kelabilan manusia yang bertingkah layaknya zombie, pemakan otak manusia dan mempertuhankan pendapat-pendapat manusia yang dianggap patut dan layak untuk ditiru *seperti ini*

Bulusaraung

Bingkisan rinai hujan berhadiah lantunan melodi rindu ditengah cekamnya sepi
Untaian mantra pembunuh sunyi terhantur pelan dari dalam nurani bumi
Laksana pelita di tengah gulita, sabdamu mencerahkan semesta di setiap incinya
Ufuk timur dan mentari paginya bertingkah seolah mati
Samar hangatmu kurasa dalam peluk berbungkus malu-malu
Atmosfer biru kuhirup dengan gugup, tak sanggup lagi tertutup oleh improvisasiku
Rasanya terbang menukik seperti pelangi, tanpa harus takut akan kelabu
Aksi sejuta romansamu meninggalkan reaksi semu merah di pipiku
Ucapmu yang berbau pinta telah terkabul olehku sebelum lisan mengutarakan maksud
Nurani berontak enggan tuk berbohong lagi, seperti lembar harapan yang berbuah absurd
Gunung Bulusaraung, 26 Mei 2013.

@Makahsara

Selasa, 02 Juli 2013

Doa tuhan pada Tuhan

Ya Tuhan!
Tunjukkan manifestasi eksistensimu
hapuslah nama-nama mereka di daftar doa belum terkabul-Mu
mereka yang terlalu banyak meminta, mereka yang lupa kata usaha
hancurkan tendensi mereka yang masih menuhankan tuhan-tuhan macam aku.

Ya Tuhan!
Jika engkau memang ada,
buka tabir-tabir gelap para wayang yang berlakon sok suci di panggung teatrikal duniawi,
rubahlah naskah drama miris tragis menjadi realita manis romantis.

Ya Tuhan!
Kembalikan wujud teman-teman kami..
ada yang menjadi etalase baju, tas, dan sepatu,
ada yang bersaing tinggi dengan pencakar langit,
ada juga yang menjadi beberapa artis hollywood pada suatu subuh.

Ya Tuhan!
Tunjukkanlah sosok asli tuhan-tuhan yang membuat kami saling berselisih,
saling menumpahkan darah, nanah, dan air mata.
Saling cela, hingga tanpa sadar menjadi indikator duplikasi tuhan yang kian banyak.

Ya Tuhan!
Sampaikan doa ini  pada mereka, tiuplah dunia, percepat waktu,
atau jika perlu perdekat jarak matahari lalu keringkan samudra.
Ah.. tapi menurutku ini terlalu drama.
Lakukan saja apa yang menurutmu pantas lah.. Jangan sampai kau ikut-ikutan main drama.
Amin

Sabtu, 15 Juni 2013

Asap, Lentera (kamu), dan Jarak..

                Asap cerutu yang sedaritadi kusulut kembali membiaskan sinar lentera kuning, bayangan bulu merpati di penaku selalu mengingatkanku pada bulu matamu yang melengkung cekung seperti ombak di musim kering.. lalu.
Aku bersandar di dipan depan rumah baruku, rumah yang lebih layak disebut pondok. Buruk dan menyedihkan, hanya ada tiga cahaya penerang di sini, pun tak secerah cahaya tempatku berpijak dua hari lalu. Lentera kuning lambang kekalahan dikala sendiri dan mungkin akan sedikit romantis jika berdua, tentunya berdua denganmu.
                Tiga cahaya kekalahan ini seolah menyudutkanku dalam benderang, memaksaku menulis picisan-picisan yang mengubah siklus tidurku dan berhasil melukis lingkaran hitam di kedua sudut mataku. Itu terlihat semakin serasi dengan raut wajah cekungku, seperti kembali melonggarkan kulit tubuhku yang pernah sempit dua hari lalu..
Dan lagi… kekecewaanku bertambah setelah reaksi-reaksi itu hanya bermanifestasi sobekan kertas-kertas yang batal kukirim padamu.
                Aku merasa senasib dengan kertas yang telah kusobek, dan terkapar di dalam bak sampah, aku lumpuh tak berdaya dalam genggaman birokrasi berkedok famili. Ah ! anjing ! *tanpa sensor*
Layaknya seorang pendosa, mereka mengasingkanku di sini, di pondok buruk beratapkan derita, berdinding rindu, dan beralaskan lara. Hidupku berubah 190,1˚ di sini! Tak ada candaan lepas dari sahabat-sahabatku. Aku rindu melakukan kegiatan menggilir bibir cangkir kopi bersama mereka. Aku merindukan bentuk-bentuk kepala mereka dan isinya yang terkadang tak sejalan denganku. Namun, tak jarang aku menyamakan arah walau kadang terpaksa.
                Untuk sekian kalinya aku menghisap cerutu di bawah lentera kuning, sakitku perlahan terhenti seiring hembusan asap, namun kembali lara datang seirama dengan tarikan napas. Kali ini aku semakin terdampar, setelah menyadari makna sebuah jarak dan kamu.
Aku tergilas milyaran jarak dari kebahagiaanku!

Asap, Lentera (kamu), dan Jarak..


                Tulisan ini didedikasikan untuk sahabat, si penggilir bibir cangkir kopi yang cintanya dipermainkan oleh jarak dan suara hatinya dibungkam oleh mesin-mesin perata gunung penggerus bumi.

                                                                                                                 - Balai Bambu, Bohlam Kuning
                                                                                                                                Juni, 15/13



Senin, 10 Juni 2013

Testimoni...(Rumah Pohon)

                Kelak, aku dan kamu duduk berdua di beranda rumah pohon yang cukup lama kita rencanakan. Kala itu, kita sudah berumur, kita merefleksi kenangan-kenangan indah kala rambutku masih hitam, sebenarnya aku ingin menyertakan rambutmu, namun, kamu terlahir beruban duluan. Tapi aku menikmati, kupikir… rambut semrawut hitam putihmu yang pun kurawat tiap hari, aroma khasnya tetap sebiasa dulu, hanya saja kala mengingat itu, rambutmu didominasi putih dan butuh perawatan lebih.


                Banyak yang lucu dari serabut kepala besarmu itu. Kuingat lagi candaku yang kukutip dari iklan shampoo favoritku “aku udah ketemu jodoh rambut, jodoh hidup belum”… dan lalu, mimik datarmu mulai pudar dalam tawa kita, tak lebih sedetik setelah kupukul mesra dahimu. Ah, tapi itu bukan iklan favoritku lagi. Kini jodoh rambutku telah pergi dan meninggalkan bercak-bercak putih di kepalaku, dan jodoh hidupku (kamu) telah kutemukan...


                Malam ini, kita bercerita tentang awal pertemuan kita, selagi anak-anak kita sibuk mengeja mimpi, kuraih lalu kugenggam jemarimu yang mulai bergetar, engkau mulai cerita..
Cara penyajianmu masih seperti dulu, kau selalu bercerita lewat cara historical. Mulai dari hal-hal kecil yang kebanyakan intermezzo yang semakin menunjukkan ketakutanmu akan lethologica, dan tiap-tiap kalimat krusialmu yang selalu kau akhiri dengan tawa nervousmu.

Testimoni...(Rumah Pohon)


                Lagi, malam ini kau kembali bernostalgia, tentang pertama kali kau mengerti semiotika rasaku, tentang euphoria pertama yang menahanmu berhari-hari di kamarku, tentang pertanyaan-pertanyaanmu dari tiap-tiap cerita laluku, tentang kita, dan tak luput cerita tentang pengalaman vulgarmu dengan bekas pacarmu.

                Walau dengan sedikit sungkawa dan rasa cemburu, namun semuanya bisa kita lewati. Mungkin karena biasa, sehingga kita menganggap itu hanya tanda koma yang mengajak kita berhenti sejenak untuk merefleksi. Seberapa kuat rasa saling memahami kita ? dan sekedar mengingatkan, kau begitu berharga.

                Kita telah berjuang keras menaklukkan berbagai koma, ada yang akrab seperti “halo”, dan ada juga yang berbuah penyesalan berwarna ungu tua..
merdeka, di sini tidak akan ada lagi terror-terror bekas pacar psikopatku yang tempo hari membatasi demokratisnya cinta kita. Kita hanya tinggal mendaki koma-koma terjal yang membentuk jalur untuk titik di puncak sana, atau menunggu koma terakhir datang bersama waktu yang kemudian akan menghantarkan jiwaku kurang dari satu detik sebelum jiwamu dituntun ke tujuan yang sama denganku, ke puncak titik Nirwana.

                Namun sebelumnya, aku ingin mendidik anak-anak kita agar kelak, ia tidak mengalami fiasko, seperti aku sebelum mengenalmu. Anak yang mampu memahami bahwa hidup itu flip-flop, gelap tidak akan selamanya gelap, tetap pragmatis tak usah histeris.
anak-anak yang bibirnya terus melafalkan syair-syair Tuhan yang tiada jeda, mengiringi kita meniti Nirwana.


Setidaknya, sebelum mencapai titik koma yang terakhir, aku ingin menimang cucu bersamamu…


Selasa, 21 Mei 2013

Suri Luci


Suasana menjadi dingin dan sunyi
Suara-suara bising tak terbalas lagi.
Maskulin tampangku tak bernilai disini;
Kakek nenekku kenapa cuek sekali ?

Dari atas sini aku melihat aku membiru; 
Sisa-sisa darah, memberi rona di hidung dan telingaku.
Tak pernah aku tertidur dikelilingi banyak orang; 
Ada juga yang sibuk mengacak lemariku memilah barang..

Adaptasi begitu panjang di wisata alfa ini; 
Ada yang sepertiy tikus, merpati, dan babi..
Langkahku yang terasa begitu berat tiba-tiba berhenti..
Suasana tanah yang keras tiba-tiba melunak mengisap kaki..
Aneh, hanya aku saja yang tenggelam

Titik air mata ibuku menetes tepat di mataku yang hampir kelam..
Aku ingat sekali hipnogogiaku diramaikan tangis 4 orang..
Bangkitku; mereka kalang kabut seolah disapa tuhan..
Angkuh; kukabarkan semua mimpi nyataku, kuselipkan sedikit hiperbola setan.. haha

@AntologiLuci

Malamku, malam mereka, malam anak-anakku


4 lembar kemerahan harus kupacu, 
braku masih longgar; 
belum cukup untuk susu si bungsu, 
belum lagi si sulung yg sdh 2 hari gemetar.

Pewarna kimiawi ini hanya membuat wajah ayuku semakin merah; 
aku masih bertanya-tanya, 
paradigma macam apa yg dimiliki pria ?

Ribuan suara menghujam lelah berdiriku di pinggir trotoar;
 ada yang beretorika, ada juga yang berkoar.
Sesekali sela-sela dadaku diselipkan lembaran biru; 
kutabur senyum palsu, 
tangannya di dadaku mendingin menahan nafsu.

Tak lama, mataku sedikit kabur, 
kadar alkohol rendah ternyata bawa efek blur; 
aku terbangun duduk topless dalam pangkuan mas bur.

Bohlam berbias kuning kamar berlabel "burung" memaksaku merenung; 
jutaan duri sesal tak henti menikam tepat di tengah punggung.