Kelak, aku dan kamu duduk berdua
di beranda rumah pohon yang cukup lama kita rencanakan. Kala itu, kita sudah
berumur, kita merefleksi kenangan-kenangan indah kala rambutku masih hitam,
sebenarnya aku ingin menyertakan rambutmu, namun, kamu terlahir beruban duluan.
Tapi aku menikmati, kupikir… rambut semrawut hitam putihmu yang pun kurawat
tiap hari, aroma khasnya tetap sebiasa dulu, hanya saja kala mengingat itu,
rambutmu didominasi putih dan butuh perawatan lebih.
Banyak yang lucu dari serabut kepala
besarmu itu. Kuingat lagi candaku yang kukutip dari iklan shampoo favoritku “aku udah ketemu jodoh rambut, jodoh hidup
belum”… dan lalu, mimik datarmu mulai pudar dalam tawa kita, tak lebih sedetik
setelah kupukul mesra dahimu. Ah, tapi itu bukan iklan favoritku lagi. Kini
jodoh rambutku telah pergi dan meninggalkan bercak-bercak putih di kepalaku,
dan jodoh hidupku (kamu) telah kutemukan...
Malam ini, kita bercerita
tentang awal pertemuan kita, selagi anak-anak kita sibuk mengeja mimpi, kuraih
lalu kugenggam jemarimu yang mulai bergetar, engkau mulai cerita..
Cara
penyajianmu masih seperti dulu, kau selalu bercerita lewat cara historical.
Mulai dari hal-hal kecil yang kebanyakan intermezzo
yang semakin menunjukkan ketakutanmu akan lethologica,
dan tiap-tiap kalimat krusialmu yang selalu kau akhiri dengan tawa nervousmu.
![]() |
| Testimoni...(Rumah Pohon) |
Lagi, malam ini kau kembali
bernostalgia, tentang pertama kali kau mengerti semiotika rasaku, tentang euphoria pertama yang menahanmu
berhari-hari di kamarku, tentang pertanyaan-pertanyaanmu dari tiap-tiap cerita
laluku, tentang kita, dan tak luput cerita tentang pengalaman vulgarmu dengan
bekas pacarmu.
Walau dengan sedikit sungkawa
dan rasa cemburu, namun semuanya bisa kita lewati. Mungkin karena biasa,
sehingga kita menganggap itu hanya tanda koma yang mengajak kita berhenti
sejenak untuk merefleksi. Seberapa kuat rasa saling memahami kita ? dan sekedar
mengingatkan, kau begitu berharga.
Kita telah berjuang keras
menaklukkan berbagai koma, ada yang akrab seperti “halo”, dan ada juga yang
berbuah penyesalan berwarna ungu tua..
merdeka, di sini
tidak akan ada lagi terror-terror
bekas pacar psikopatku yang tempo hari membatasi demokratisnya cinta kita. Kita
hanya tinggal mendaki koma-koma terjal yang membentuk jalur untuk titik di
puncak sana, atau menunggu koma terakhir datang bersama waktu yang kemudian
akan menghantarkan jiwaku kurang dari satu detik sebelum jiwamu dituntun ke
tujuan yang sama denganku, ke puncak titik Nirwana.
Namun sebelumnya, aku ingin
mendidik anak-anak kita agar kelak, ia tidak mengalami fiasko, seperti aku
sebelum mengenalmu. Anak yang mampu memahami bahwa hidup itu flip-flop, gelap
tidak akan selamanya gelap, tetap pragmatis tak usah histeris.
anak-anak
yang bibirnya terus melafalkan syair-syair Tuhan yang tiada jeda, mengiringi
kita meniti Nirwana.
Setidaknya,
sebelum mencapai titik koma yang terakhir, aku ingin menimang cucu bersamamu…








0 komentar:
Posting Komentar