Sabtu, 15 Juni 2013

Asap, Lentera (kamu), dan Jarak..

                Asap cerutu yang sedaritadi kusulut kembali membiaskan sinar lentera kuning, bayangan bulu merpati di penaku selalu mengingatkanku pada bulu matamu yang melengkung cekung seperti ombak di musim kering.. lalu.
Aku bersandar di dipan depan rumah baruku, rumah yang lebih layak disebut pondok. Buruk dan menyedihkan, hanya ada tiga cahaya penerang di sini, pun tak secerah cahaya tempatku berpijak dua hari lalu. Lentera kuning lambang kekalahan dikala sendiri dan mungkin akan sedikit romantis jika berdua, tentunya berdua denganmu.
                Tiga cahaya kekalahan ini seolah menyudutkanku dalam benderang, memaksaku menulis picisan-picisan yang mengubah siklus tidurku dan berhasil melukis lingkaran hitam di kedua sudut mataku. Itu terlihat semakin serasi dengan raut wajah cekungku, seperti kembali melonggarkan kulit tubuhku yang pernah sempit dua hari lalu..
Dan lagi… kekecewaanku bertambah setelah reaksi-reaksi itu hanya bermanifestasi sobekan kertas-kertas yang batal kukirim padamu.
                Aku merasa senasib dengan kertas yang telah kusobek, dan terkapar di dalam bak sampah, aku lumpuh tak berdaya dalam genggaman birokrasi berkedok famili. Ah ! anjing ! *tanpa sensor*
Layaknya seorang pendosa, mereka mengasingkanku di sini, di pondok buruk beratapkan derita, berdinding rindu, dan beralaskan lara. Hidupku berubah 190,1˚ di sini! Tak ada candaan lepas dari sahabat-sahabatku. Aku rindu melakukan kegiatan menggilir bibir cangkir kopi bersama mereka. Aku merindukan bentuk-bentuk kepala mereka dan isinya yang terkadang tak sejalan denganku. Namun, tak jarang aku menyamakan arah walau kadang terpaksa.
                Untuk sekian kalinya aku menghisap cerutu di bawah lentera kuning, sakitku perlahan terhenti seiring hembusan asap, namun kembali lara datang seirama dengan tarikan napas. Kali ini aku semakin terdampar, setelah menyadari makna sebuah jarak dan kamu.
Aku tergilas milyaran jarak dari kebahagiaanku!

Asap, Lentera (kamu), dan Jarak..


                Tulisan ini didedikasikan untuk sahabat, si penggilir bibir cangkir kopi yang cintanya dipermainkan oleh jarak dan suara hatinya dibungkam oleh mesin-mesin perata gunung penggerus bumi.

                                                                                                                 - Balai Bambu, Bohlam Kuning
                                                                                                                                Juni, 15/13



0 komentar:

Posting Komentar