Asap cerutu
yang sedaritadi kusulut kembali membiaskan sinar lentera kuning, bayangan bulu
merpati di penaku selalu mengingatkanku pada bulu matamu yang melengkung cekung
seperti ombak di musim kering.. lalu.
Aku bersandar di dipan depan rumah baruku, rumah yang lebih
layak disebut pondok. Buruk dan menyedihkan, hanya ada tiga cahaya penerang di
sini, pun tak secerah cahaya tempatku berpijak dua hari lalu. Lentera kuning lambang
kekalahan dikala sendiri dan mungkin akan sedikit romantis jika berdua,
tentunya berdua denganmu.
Tiga cahaya
kekalahan ini seolah menyudutkanku dalam benderang, memaksaku menulis
picisan-picisan yang mengubah siklus tidurku dan berhasil melukis lingkaran
hitam di kedua sudut mataku. Itu terlihat semakin serasi dengan raut wajah
cekungku, seperti kembali melonggarkan kulit tubuhku yang pernah sempit dua
hari lalu..
Dan lagi… kekecewaanku bertambah setelah reaksi-reaksi itu
hanya bermanifestasi sobekan kertas-kertas yang batal kukirim padamu.
Aku merasa
senasib dengan kertas yang telah kusobek, dan terkapar di dalam bak sampah, aku
lumpuh tak berdaya dalam genggaman birokrasi berkedok famili. Ah ! anjing !
*tanpa sensor*
Layaknya seorang pendosa, mereka mengasingkanku di sini, di
pondok buruk beratapkan derita, berdinding rindu, dan beralaskan lara. Hidupku berubah
190,1˚
di sini! Tak ada candaan lepas dari sahabat-sahabatku. Aku rindu melakukan
kegiatan menggilir bibir cangkir kopi bersama mereka. Aku merindukan
bentuk-bentuk kepala mereka dan isinya yang terkadang tak sejalan denganku. Namun,
tak jarang aku menyamakan arah walau kadang terpaksa.
Untuk sekian
kalinya aku menghisap cerutu di bawah lentera kuning, sakitku perlahan terhenti
seiring hembusan asap, namun kembali lara datang seirama dengan tarikan napas. Kali
ini aku semakin terdampar, setelah menyadari makna sebuah jarak dan kamu.
Aku tergilas milyaran jarak dari kebahagiaanku!
![]() |
| Asap, Lentera (kamu), dan Jarak.. |
Tulisan ini
didedikasikan untuk sahabat, si penggilir bibir cangkir kopi yang cintanya
dipermainkan oleh jarak dan suara hatinya dibungkam oleh mesin-mesin perata
gunung penggerus bumi.
-
Balai Bambu, Bohlam Kuning
Juni,
15/13








0 komentar:
Posting Komentar