Hari ke-enam belas di bulan
keenam di tahun ke tiga ribu enambelas dikurang tiga tahun!
Entah
ini sebuah paradox atau ironi, aku tak pernah mengerti akan kelabilan manusia
yang bertingkah layaknya zombie, pemakan otak manusia dan mempertuhankan
pendapat-pendapat manusia yang dianggap patut dan layak untuk ditiru *seperti
ini*
Sore
ini aku terjebak dalam konversasi meja persegi panjang yang dihangat-hangatkan.
Aku menyeruput es campur yang tadi kupesan, sekedar memberi sedikit rasa akan
percakapan hambar ini. Lagi-lagi soal agama, ah membosankan, membahas halal
haram,baik buruk, menurut mereka, atau mungkin menurut konsep tuhan dan nabi
dalam otak mereka.
Ada
tujuh kepala disini termasuk aku, kepala
yang pertama kupikir ia cukup banyak mendengar tentang dongeng-dongeng dari
agama yang dianutnya, itu tercermin dari kata-katanya yang mengagung-agungkan
seorang nabi yang membuat kaumnya lelah setiap hari harus menjunjung nabi
mereka. Sepertinya ia seorang penganut
agama otoriter dan fanatis! Kepala yang kedua pemikirannya tak jauh beda dari
kepala pertama, ini terlihat jelas dari intensitasnya mengucap kata “iya” bah!”
ketika kepala pertama memuntahkan retorikanya. Kepala ketiga dan keempat
sepetinya hanyalah seekor followers. Sementara kepala kelima dan keenam adalah
mahluk apatis, seolah menampikkan tuhan dalam konsep empat kepala yang berusaha
diseragamkan.
Lalu
kepala yang ketujuh, aku sendiri jelas-jelas malas membahas ini, aku tak suka
membahas tuhan dan segala ajaran dan ganjarannya! Aku tersudutkan dalam
percakapan ini!
Es
campurku perlahan habis! Tak ada lagi penyejuk ditengah gejolak percakapan ini
yang semakin menggila. Hingga pada titik terjenuh percakapan ini membahas
tentang halal haram pernikahan! kepala
petama melemparkan jala pernyataannya
katanya ia ingin “menikah muda” kepala kedua mengiyakan begitupun ketiga
dan keempat. Mereka larut dalam ilusi mereka yang kini mulai hampir setara. Saling
mengiyakan, walau sebenarnya ada yang tak sejalan namun mereka ragu mematahkan
pendapat tuhan dan asistennya (nabi) yang tak memberi pilihan lain kecuali
“SEMBAHLAH AKU!”
Bunyi
kidung agung terdengar membahana di udara senja ini, percakapan ini mereka
akhiri mereka berjalan menuju tempat
ibadah guna mensucikan diri seperti titah tuhan mereka. Aku duduk berdua dengan
kepala keenam, sembari menunggui kepala-kepala tadi menyembah tuhannya. Kepala
keenam memang selalu terlihat apatis
seperti aku. Aku mencari-cari disekitarku kucari kepala kelima yang kupikir
sangat apatis pula akan hal ini, dan kudapati ia sujud di dalam rumah tuhan
bersama kepala-kepala lain.
Tinggallah
aku bersama kepala keenam, yang sepertinya masih memproses materi percakapan
tadi, mungkin saja pemikirannya akan sama dengan kepala kelima satu dua dan
tiga, dan menjadi ummat suci kesayangan tuhan mereka!







0 komentar:
Posting Komentar