4 lembar kemerahan harus kupacu,
braku masih longgar;
belum cukup untuk susu si bungsu,
belum lagi si sulung yg sdh 2 hari gemetar.
Pewarna kimiawi ini hanya membuat wajah ayuku semakin merah;
aku masih bertanya-tanya,
paradigma macam apa yg dimiliki pria ?
Ribuan suara menghujam lelah berdiriku di pinggir trotoar;
ada yang beretorika, ada juga yang berkoar.
Sesekali sela-sela dadaku diselipkan lembaran biru;
kutabur senyum palsu,
tangannya di dadaku mendingin menahan nafsu.
Tak lama, mataku sedikit kabur,
kadar alkohol rendah ternyata bawa efek blur;
aku terbangun duduk topless dalam pangkuan mas bur.
Bohlam berbias kuning kamar berlabel "burung" memaksaku merenung;
jutaan duri sesal tak henti menikam tepat di tengah punggung.








0 komentar:
Posting Komentar